Kekuatan maritim Asia-Pasifik

Pada tahun 1959, tiba dua unit kapal selam buatan Uni Soviet di pelabuhan Surabaya pada tanggal 7 September 1959. Kedua kapal selam kelas Whiskey yang memiliki kecepatan maksimum 18,3 knot dan dipersenjatai 12 torpedo tersebut secara resmi masuk ke dalam jajaran kekuatan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) pada tanggal 12 September 1959 dengan nama KRI Tjakra (S-01) dan KRI Nanggala (S-02).

Dua tahun kemudian, menyusul pengiriman tahap kedua setelah pemerintah Indonesia kembali memesan kapal selam dengan kelas yang sama dari Uni Soviet sebanyak 10 unit. Pemesanan tahap kedua ini dikirimkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama dikirim sebanyak 4 kapal selam yang tiba pada bulan Desember 1961 yang kemudian masing-masing diberi nama; KRI Nagabanda, KRI Trisula, KRI Nagarangsang, dan KRI Tjandrasa. Pengiriman gelombang kedua bersamaan dengan digelarnya kampanye operasi militer Trikora untuk merebut Irian Barat. Sebanyak 6 kapal selam tiba pada bulan Desember 1962 yang kemudian diberi nama; KRI Widjajadanu, KRI Hendradjala, KRI Bramasta, KRI Pasopati, KRI Tjundamani, dan KRI Alugoro. Keenam kapal selam ini telah dilengkapi dengan torpedo jenis SEAT-50, yaitu tipe torpedo fire-and-forget berdaya jangkau 4-8 kilometer yang merupakan torpedo tercanggih pada zamannya dimana hanya pihak Uni Soviet dan Indonesia saja yang memiliki torpedo jenis ini.

Pasopati 410

Dengan mengoperasikan total sebanyak 12 kapal selam, Indonesia pun menjadi negara dengan kekuatan maritim terbesar yang mengoperasikan kapal selam di kawasan Asia-Pasifik pada dekade tahun 1960-an hingga 1970-an. Sebagai perbandingan, pada tahun 1967, AL Australia sendiri tercatat hanya memiliki 6 kapal selam saja (dari kelas Oberon). Selama berlangsungnya Operasi Trikora sendiri, kehadiran kapal-kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet ini sangat berperan penting dalam menggetarkan nyali pihak lawan. Dari mulai dikerahkan untuk melakukan blokade laut terhadap perairan Irian Barat, hingga digunakan untuk mendukung operasi pengintaian dan menyusupkan pasukan komando ke daratan. Bahkan pada masa-masa itu, kapal-kapal selam Indonesia dengan mudah dapat melakukan penyusupan dan pengintaian di perairan utara Australia atau masuk dan berkeliaran di perairan pelabuhan Singapura, tanpa terdeteksi.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *